Apakah Ovo dan Gopay Riba ? Temukan Jawabannya Disini

hukum emoney ovo dan gopay

Bismillahirrohmanirroim, apakah Ovo dan Gopay riba ? Sependek pemahaman saya. Dimana sedikitnya saya sudah menyimak dari berbagai sumber baik dari artikel maupun video.

Saya menyimpulkan bahwa ovo dan gopay mengandung unsur riba. Alasannya bisa saudara temukan dalam artikel ini. Mohon dibaca sampai tuntas, jangan sepotong-sepotong agar tidak salah paham.

Seiring dengan meningkatnya transaksi online, kebutuhan akan uang digital atau emoney pun semakin tinggi.

Ovo dan Gopay adalah alat pembayaran elektronik yang paling diminati saat ini. Diskonnya itu loh yang bikin para ibu-ibu muda sampai remaja alay gelap mata ya kan ?

Perbedaan E-money dan E-Wallet

Berdasarkan media penyimpanannya uang elektronik bisa dibedakan menjadi dua :

  1. Server Based
  2. Chip Based

Yang pertama server based.

Served based maksudnya adalah uang elektronik berbasis server. Dimana kita membutuhkan koneksi internet untuk mengakses server penerbit / perusahaan uang elektronik tersebut.

Kemudian barulah kita bisa menggunakan layanannya atau melakukan transaksi, cek saldo, dan lain-lain.

Nah uang elektronik berbasis server ini biasa disebut E-Wallet atau dompet digital. Contoh e-wallet antara lain : XL Tunai (XL), LinkAja!, Dana, Doku (Nusa Inti Arta), Rekening Ponsel (CIMB Niaga), Go Pay, Ovo, Dompetku (Indosat Ooredoo), MYNT E-Money (Artajasa), Finpay (Finnet), Delima (Telkom), dll

Yang kedua yaitu Chip Based.

Ialah uang elektronik berbasis chip atau kartu. Untuk menggunakannya cukup dengan menggesekkan atau menempelkan kartu tersebut pada mesin yang sudah disediakan.

Uang elektronik berbasis chip ini biasa disebut e-money.

Beberapa contoh e money : E-Toll, Flazz (BCA), E-Money (Mandiri), JakCard (Bank DKI), Brizzi (BRI), Mega Cash (Bank Mega), TapCash (BNI), dan sebagainya.

Tapi yang paling gencar menawarkan promo diskon adalah ovo dan go-pay alias GoPay. Bahkan ovo yang notabene menjalin kerjasama dengan Tokopedia dan Grab kini sudah menjelma menjadi salah satu startup unicorn made in Indonesia.

Predikat unicorn yang diraih oleh ovo menandakan, pembayaran atau transaksi digital sudah menjamur di masyarakat Indonesia karena dinilai lebih efisien dan yang terpenting banyak diskon.

Ibu-ibu yang baca arikel ini pasti setuju 100 persen, iya kan bu ?

Transaksi Non Tunai Meningkat Secara Signifikan

Berdasarkan data dari bank Indonesia pada tahun 2013, volume transaksi non tunai mencakup transfer, gesek kartu debit dan kredit dan uang elektronik adalah sebesar 39,44%.

Lima tahun berikutnya volume transaksi non tunai mengalami peningkatan yang sangat tajam mencapai 60,06 % pada tahun 2018.

Namun anehnya nominal transaksi non tunai hanya naik tidak lebih dari 3% dalam kurun waktu yang sama. Tahun 2013 nominal transaksi non tunai mencakup transfer, gesek kartu debit dan kredit, dan uang elektronik yaitu 58,28% dan naik menjadi 69,28% tahun 2018.

Pengertian Uang Elektronik (E-Money) Menurut Bank Indonesia

Bank Indonesia mengatakan bahwa :

Uang elektronik ialah uang yang disetor terlebi dahulu oleh konsumen kepada penerbit dalam hal ini ovo dan gopay, dll.

Kemudian nominal uang tersebut tercatat secara digital dalam sebuah media berupa chip atau server.

Bisa dipakai sebagai alat pembayaran disemua toko yang melayani pembayaran elektronik tetapi bukan perusahaan atau penerbit e-money.

Uang yang sudah disetorkan oleh konsumen boleh dipakai penerbit dalam hal ini ovo dan gopay, dll. Tetapi bukan merupakan simpanan/tabungan seperti kita menyimpan uang di bank.

Ditengah maraknya pembarayan digital atau penerbit kartu e-money dengan (sekali lagi) penawaran diskonnya yang membuat kita tidak dapat berpaling.

Lalu muncul sebuah pertanyaan dikalangan kaum muslimin yang pastinya juga melek informsi terkini. Dan tentunya punyalah barang satu-dua kartu e-money buat belanja online yang (sekali lagi, ini yang terakhir tapi gak janji ya) ada diskonnya.

Apakah ovo dan gopay mengandung riba atau haram ?

Nah artikel ini hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Saya mengutip setidaknya dari tiga nara sumber. Yang pertama dari channel Surabaya Mengaji dimana Ustadz Ammi Nur Baits sebagai pembicaranya.

Yang kedua dari Wahdah TV, pembicaranya adalah ustadz Hendra Wijaya LC.

Yang ketiga dari ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A.

Mari kita simak satu per satu :

APAKAH OVO DAN GOPAY RIBA Oleh Ust. Ammi

Sekarang ada banyak sekali lembaga yang menerbitkan e-money. Uang elektronik.

Ada yang di terbitkan e-toll ada yang diterbitkan oleh perusahaan yang lebih kecil misalnya gopay, ovo, xltunai dan seterusnya.

Kalau kita menggunakan fasilitas seperti ini diperbolehkan atau tidak ? Para ulama memberikan pendekatan, apa hukum nya menggunakan e-money ?

Ketika kita top-up, deposit. Biar kartu ini ada isinya saya deposit 500 ribu nanti saya pakai untuk e-toll. Atau bisa dipakai untuk parkir atau belanja dan seterusnya.

Sebagian ada yang memahami top-up ini statusnya adalah memberi hutang. Jadi kita menyerahkan uang itu kepada pihak yg menerbitkan e-money tadi dengan akad hutang.

Saya utangi dulu kamu 500 ribu. Uang itu boleh dimanfaatkan oleh penerbit e-money, karena akadnya hutang. Berarti jika penerbit ini memberi diskon untuk layanan yang menggunakan jasa e-money berarti kita mendapatkan manfaat dari transaksi utang.

Contoh :

Belanja di toko A bayar pakai ovo gratis donat satu porsi atau satu kotak misalnya. Ini boleh atau tidak ?

Kalau pakai pendekatan akad utang, berarti dapat manfaat dari transasi utang piutang. karena kita ngutangi pihak penyelenggara yang menerbitkan kartu tadi.

Kemudian ketika nagih mengambil hutang itu ternyata kita dikasih hadiah, maka jawabannya seperti ini.

hadiah karena hutang

Hadiah Karena Hutang Ada Tiga Macam

#1 Hadiah sebelum hutang lunas

Ini dilarang sebagaimana fatwa yang pernah disampaikan oleh ibnu umar dan ibnu abbas.

Ada orang yg memberi hadiah kepada orang yang memberi hutang.
Kemudian kata ibnu umar, pilihannya ada dua :

Pertama, hadiah itu ditolak.

Kedua, hadiah itu dihitung sebagai bagian dari pelunasan hutang. sehingga kalau hutangnya 1 juta dan hadiah yang diserahkan 100 ribu, berarti hutangnya tinggal 900 ribu.

Yang seratus kemana ? dibayar pakai hadiah. artinya hadiah ini sama sekali tidak boleh dinikmati oleh pemberi hutang. Pilihanya ditolak atau hutangnya dikurangi.

#2 Hadiah ketika melunasi utang

Ini hukumnya boleh dengan syarat tidak dijanjikan.

Tidak disepakati dan tidak diminta sehingga atas permintaan pemberi hutang dan tidak ada kesepakatan diawal.

Tapi inisiatif penerima utang maka ini diperbolehkan.

#3 Hadiah setelah utang lunas

Kalau setelah utang lunas tidak ada batasan.

Anda melunasi hutang hari ini hadiahnya dikasih Romadhon besok tidak masalah, diperbolehkan.

Ini beberapa batasan tentang hadiah karena transaksi hutang.

Nah kalau kita menggunakan e-money berarti disitu memberikan hadiah sebelum hutang lunas.

Apa hukumnya ? Ya ini tidak boleh, dilarang.

Maka bonus atau diskon itu tidak boleh diterima. Ini salah satu contoh pendekatan yang diberikan oleh ulama.

Apakah Ovo dan Gopay Riba Oleh Ust. Hendra

Apakah ovo dan gopay riba? Ikhwan sekalian yg dirahmati Allah Subahana wa Ta’ala.

Jadi gopay dll ini sebenarnya sudah dibahas liqo ilmi dewan syariah ke 19. Namun sayangnya belum diterbitkan surat keputusannya.

Mungkin akan kita rekomendasikan agar segera diterbitkan supaya tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Tinggal merujuk ke fatwa dewan syariah.

Terjadi perbedaan pendapat tentang hal itu di dewan syariah sendiri terjadi beberapa perdebatan yg sengit.

Namun kesimpulannya, bahwa mayoritas dari asatizah menganggap deposit itu, dan mendapatkan diskon dari uang ovo dan gopay ketika memesan gojek ini tidak termasuk perkara riba.

Dengan mungkin kita bisa jelaskan sedikit. Ada setidaknya 4 skema akad pendekatan yg sudah dibahas.

Masing-masing mempunyai dalil, tinggal kita pilih yang mana yang lebih dekat dari pada skema deposit pada top-up ovo dan gopay itu.

Akad ijarah maushufah fi dzimmah (1)

Ijarah artinya sewa menyewa, maushufah fi dzimmah artinya sama dengan bai’ salam. Uangnya dibayar dahulu tapi barangnya atau jasanya nanti dikemudian hari.

Jadi ketika seseorang memasukan deposit ibaratnya sudah masuk akad ijarah, sewa menyewa jasa. Kemudian nanti akan menerima jasanya kapan ia kehendaki.

Kalau akadnya seperti ini insyaAllah tdk ada masalah. Karena ini bukan hutang piutang.

Cuma masalahnya karena gopay dan ovo itu tidak hanya bisa dipergunakan untuk memesan jasa. Justru bisa digunakan untuk membeli jadi apakah ini sewa menyewa atau jual beli ?

Nanti kita jelaskan kira-kira mana yg lebih dekat.

Sebagai ilustrasi akad ijarah maushufah fi dzimmah, seperti kalau kita membeli voucher listrik. Kita bayar dulu vouchernya nanti manfaatnya dibelakang. mirip-mirip seperti itulah.

Akad wadiah (2)

Wadiah artinya titipan. Ini sifatnya amanah kalau kita menitipkan sesuatu harus amanah.

Contoh saya ingin menitipkan uang kepada ustadz Syahril. Ini ada uang saya 1 juta silahkan disimpan. Nanti kalau kita belanja dikeluarkan itu sedikit demi sedikit ya. Saya titipkan uang 1 juta.

Kalau seperti ini maka ustadz Syahril tidak boleh menggabungkan uang saya dengan uangnya. Karena ditakutkan ada penggabungan uang tidak jelas karena ini sifatnya amanah harus dijaga itu titipan.

Jika bercampur akadnya akan berubah menjadi hutang piutang. Atau dia tidak boleh memanfaatkannya baik dengan seijin saya atau tanpa seijin saya.

Beliau menggunakan uang 1 juta itu karena lagi tidak punya uang yah.

Misalkan dalam perjalanan tiba-tiba beliau butuh uang. Ini ada uang titipan, terpaksa dia talangi dulu dengan uang itu.

Dia manfaatkan,

maka ini sudah keluar dari akad wadiah, karna sudah tidak amanah lagi. Berubah otomatis sebagaimana yg difatwakan oleh syehk….. rohimahumullah.

“kalau ada akad wadiah kemudian dipergunakan oleh orang yang dititipkan maka akan berubaah akadnya menjadi akad qardh.”

Nah dalam aplikasi ovo dan gopay sesuai dengan peraturan Bank Indonesia.

Sebagai e-money, uang elektronik, maka disitu ada ketentuan diperbolehkan penerbit untuk menggunakan dananya terserah penerbit dipergunakan atau tidak.

Kita tidak tahu ovo atau gopay gunakan atau tidak uang kita. kalau akadnya memang wadiah kemudian dia menggunakannya berarti otomatis akadnya berubah menjadi akad qardh, akad utang piutang.

Akad Qardh (3)

Akad qardh atau utang piutang.

Disinilah beredar fatwa adanya praktek riba dalam gopay dan ovo karena skemanya utang piutang.

Kenapa bisa ?

Saya hutangkan uang kepada ustadz Syahril kemudian saya memperoleh manfaat nanti dari utang itu.

Segala utang piutang kalo ada manfaat bagi pemberi utang maka ini bisa terjatuh kepada riba.

Apakah diskon yg kita terima itu kalo memang akadnya utang piutang. yang berapa persen itu. Beda sekali kan kalu kita membayar pakai uang kertas dibandingkan pakai ovo berapa persen bedanya itu.

Nah apakah diskon ini bisa dikategorikan sebagai manfaat utang piutang. Kalo akadnya qardh maka sebagian yang sudah beredar di internet mengatakan dia qardh dan termasuk perkara riba.

Namun juga masih ada masalahnya.

Diantara ustadz dewan syariah mengatakan ini tidak murni qardh juga. Tidak bisa langsung dikatakan diskon itu riba. Manfaat.

Karena manfaatnya itu bukan dari yang berutang kalo memang hutang. Jadi manfaatnya itu berasal dari pihak ketiga.

GOPAY Tidak Sama Dengan GOJEK

Perlu diketahui ovo dan gopay itu adalah produk uang elektroknik yg diterbitkan oleh perusahaan tersendiri. Tidak boleh bercampur dengan perusahaan jasa.

Sudah ada aturannya dalam Bank Indonesia itu.

Go pay, walaupun satu atap dengan gojek tapi manajemennya berbeda. Penerbitnya harus berbeda agar tidak bercampur uangnya.

Jadi andaikan kita memberikan deposit yang kita anggap itu hutang. Kita mengutangkan pada gopay maka yang memberikan diskon bukan penerbit uangnya itu, bukan ovo juga bukan gopay. Tapi yang memberikan diskon dari perusahaan jasanya.

Jadi bisa dibedakan yah.

Atau bahkan yg memberikan diskon dari merchant pihak ketiga. Seperti yang punya ikhwah banyak ini yah. Ada warung cingkrang, bakso mas cingkrang. Ada ustadz disini, rumah makan ukhuwah masyaAllah.


Jadi ini merchant pihak ketiga yang tidak ada kaitannya dengan.., ya walaupun ada kaitan bisnis tapi secara langsung bukan dari hasil utang kita kalo memang kita anggap hutang.

Karena berasal dari pihak ketiga. karena yang mengurusi uang elektronik itu bukan yang mengurusui jasaya dan bukan juga merchantnya.

Sehingga tidak murni juga kalau memang kita mengatakan utang piutang. Maka diskon nya ini tidak musti langsung bisa kita vonis ini adalah riba.

Akad Sharf (4) Kesimpulan Apakah Ovo dan Gopay Riba

Atau tukar menukar mata uang seperti di money changer. Saya menukarkan rupiah dengan dollar, itu boleh kalau beda mata uangnya. Bisa untung tidak masalah.

Yang masalah ketika sama mata uangnya kemudian beda yang kita tukarkan jumlahnya.

Jadi bagaimana skema akadnya kita mendepositkan uang kita, uang kertas kita. Atau kita top-up maksudnya kita itu tukarkan, kita tukarkan denga apa ? kita tukarkan dengan uang elektronik.

Jadi bukan kita menabung, juga bukan kita titip. Tetapi justru kita mengambil nilai rupiah dalam bentuk yang lain. Karena uang itu kertas, sedangkan yg ada di HP kita juga uang, tapi dia dalam bentuk virtual.

Dalam bentuk elektronik tapi dia juga uang.

Jadi kalo kita masukkan uang dan kita ambil juga uang berarti tidak dikatakan utang piutang, tidak dikatakan wadiah, tidak dikatakan ijarah.

Karena menukarkan saman dengan saman, uang ditukarkan dengan uang. Syaratnya harus sama, saya masukkan 100 ribu saya juga dapat saldo 100 ribu.

Dengan akad sharf ini kami secara pribadi dan beberapa ustadz memilih ini.

Walaupun yang lainnya masih ada pada akad-akad yang lain tapi secara garis besar dari empat akad yg kita sebutkan tadi rata-rata konsekuensinya adalah boleh.

Kecuali akad qardh. Pada akad qardh bisa boleh bisa tidak boleh.

Jadi kesimpulannya insyaAllah deposit ke gopay dan ovo diperbolehkan dan bisa kita pakai skema akad sharf.

karena memang Bank Indonesia menilai itu uang. Sudah ada aturannya, tidak boleh sembarangan orang menerbitkan. Ada aturannya siapa yang berhak menerbitkan.

Silahkan dibaca aturan perbankan sehingga kita bisa menilai apa yang ada di hp kita itu uang. Cuma bedanya dalam bentuk elektronik, Sedangkan yg didompet kita kertas. jadi kesimpulannya di perbolehkan.

Apakah ovo dan gopay riba ? oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja

Mengambil diskon menggunakan gopay boleh atau tidak ?

Tentunya ada khilaf diantara asatidzah, kita menghargai sudut pandang yang berbeda diantara mereka. Tapi kita perlu tahu hukumnya, kira-kira mana yang lebih kuat.

InsyaAllah akan saya paparkan dengan sederhana.

Sebelumnya saya ingatkan kembali, yang menjadi masalah adalah mengambil diskon dari gopay. Kalau tidak diambil diskonnya, tidak ada masalah ya.

Ada tiga pihak yang terlibat dalam hal ini yaitu :

  1. Konsumen / nasabah
  2. Gopay
  3. Bank Indonesia (BI)

Ketika konsumen melakukan top-up ke akun go-pay nya, dana tersebut disebut dana floating.

Kemudian go pay akan menyimpan uang tersebut ke Bank Indonesia. Oleh BI, dana floating ini minimal 30% disimpan di Giro dan maksimal 70% disimpan di SBN (Surat Berharga Negara).

Uang yang disimpan di GIRO disebut juga sebagai dana liquid. Artinya dana yang sewaktu-waktu bisa dicairkan. Maksudnya ketika konsumen melakukan transaksi maka uangnya diambil dari GIRO.

Apa muamalah antara konsumen dengan Gopay. Dan apa muamalah antara Gopay dengan Bank Indonesia ?

Ada perbedaan sudut pandang dikalangan para pengamat tentang muamalah antara konsumen terhadap gopay. Saya bisa ringkaskan dari beberapa informasi yang saya dapat dari internet.

Yang pertama ada yang mengatakan ini Sharf.

Mereka menganalogikan sharf itu seperti money changer atau jual beli mata uang. karna e-money, uang elektronik, gopay itu adalah mata uang tersendiri kata mereka.

Sehingga ketika kita top-up pakai rupiah, seakan-akan kita membeli mata uang yang lain. Seperti kita beli Dollar.

Mereka mengatakan, gopay mengeluarkan e-money dan kita beli dengan rupiah. Tetapi logika tersebut kurang pas, kenapa ?

Karena sebenarnya tidak ada jual beli. Yang ada kita simpan saldo, kita simpan duit disitu. Lagian tidak ada tukar menukar, yang ada adalah misalnya kita mau isi gopay, yang terjadi adalah uang kita berubah menjadi uang elektronik.

Atau dipindahkan dari rekening kita ke rekening gopay.

sama halnya ketika kita menyimpan uang dibank. Kita keluarkan kartu debit, kan ada saldonya disitu. Apakah ini mata uang tersendiri ? kan tidak. Ini adalah uang yang kita simpan di bank dan ada saldonya disitu. Jadi kartu debit itu bukan mata uang tersendiri yg kita beli.

Ada perpindahan saja, bukan jual beli.

Jadi menggunakan akad sharf saya anggap kurang tepat.

Yang kedua ada yang mengatakan ini Ijarah Mausufah Fii Dzimmah

Saya punya gopay, saya bayar dulu, nanti, saya akan mendapatkan jasa sesuai dengan saldo saya.

Misalnya saya top-up 100 ribu, jasanya apa ? nanti belakangan gak apa-apa.

Membeli jasa yang ditangguhkan, jasanya belakangan. Duitnya dulu, jasanya belakangan.

Jasanya apa yang kita beli ? Katanya adalah kita sudah beli ke gopay. Jasanya ngantar kita kemana-mana dengan total 100 ribu tersebut.

Tapi ini kurang tepat, kenapa ?

Alasan yang pertama : Jasanya tidak jelas.

Kita punya saldo 100 ribu nih. apa jasa yang kita beli dengan 100 ribu ini ? sementara harga bisa berubah.

Kalau waktunya lagi padat, harga gojek jadi mahal., kalau lagi sepi jadi murah. 100 ribu ini berapa jaraknya, per kilo meter berapa ? semuanya gak jelas.

Seseorang mengatakan beli jasa misalnya kita Umroh. Kalau mau umroh kan bayar dulu. Jasanya jelas. Anda kalu mau bayar umroh 25 juta pelayanannya seperti ini. itu namanya kita membeli jasa yang tertunda tapi jasanya jelas.

Adapun gopay gak jelas, anggaplah itu jual-beli jasa. Kita gak tahu apa yang kita dapatkan dengan uang seratus ribu tersebut. mau antar ke sunter kah, mau antar ke mana, harganya per kilo meter berapa, tidak jelas alias tidak pasti.

Alasan yang kedua : Ternyata uang gopay itu bukan hanya untuk beli jasa tapi beli barang juga.

Gofood itu kan beli.

Jadi apa yang kita beli kita tidak (belum) tahu. sementara dalam aplikasi gopay itu mungkin ada 15 item. dibawah masing-masing item ada banyak. Jadi masih banyak kemungkinan yang mau kita beli yang tidak jelas.

Disebut jual beli jasa. tidak jelas. Kalau disebut jual beli barang semakin tidak jelas. Sehingga tidak bisa disebut sebagai jual beli karena dibangun diatas sesuatu yang tidak jelas. Bahkan bisa jadi kita ambil lagi duitnya. kita tarik saldonya. Kan dalam jual beli gak boleh seperti itu. JIka sudah terjadi jual beli tidak bisa tiba-tiba uangnya kita tarik kembali.

sehingga tidak tepat jika disebut Ijarah

Perbedaan Wadiah dengan Qardh

Tinggal dua kemungkinan yang kuat, wadiah atau qardh ?

Bedanya wadiah dengan qardh. wadiah itu menitipkan, qardh itu hutang.

Contoh wadiah misalnya, si A menitipkan motor ke si B. SI B tidak boleh otak-atik motor tersebut. Tidak boleh di jual, tidak boleh digadaikan dan sebagainya. Si B harus amanah memegang motor tersebut. Kalau motor tersebut mengalami kerusakan karena kelalaian si B maka si B harus tanggung jawab.

Tapi kalau si B sudah amanah. Lalu terjadi musibah misalnya motor tersebut dirampok maling di rumah si B. Maka tidak ada masalah.

Contoh lain wadiah misalnya kita titip barang di bank. Barang tersebut simpan oleh bank dalam box dan kuncinya kita yang pegang. Itu namanya wadiah, bisa jadi kita bayar sebagai jasa bank dalam menyimpan barang kita.

Tapi selama barang tersebut masih milik kita dan bank tidak melakukan apapun terhadap barang kita selain hanya menjaganya. Maka itu disebut wadiah.

Cirinya barang itu masih milik kita, bukan milik tempat kita menitipkan. Itulah ciri utama wadiah.

Kalau qardh tidak.

Contoh qardh misalkan si A pinjamkan uang ke si B, kepemilikan berubah sejak saat itu. Uang yang tadinya milik si A sekarang menjadi milik si B. Si B bebas menggunakannya tapi si B, bertanggung jawab untuk mengembalikan uang tersebut ke si A tanpa berkurang atau lebih. Itu namanya hutang.

Makanya kalau kita simpan uang di Bank itu bukan wadiah karena uang tersebut bakalan digunakan oleh bank untuk banyak kegiatannya.

Kenapa dikatakan bunga bank riba ? Karena uang yang kita tarok di bank itu hukumnya apa ?

Qardh alias hutang

Kenapa ? Karena uang tersebut jadi milik bank, dan bank boleh mengolahnya. Hanya saya kapan kita perlu, bank bisa kasih.

Proses Perpindahan dana dari Konsumen ke Gopay lalu Ke Bank Indonesia

waktu tarok dana float, dananya masuk ke gopay. Gopay simpan dimana ?

di bank Indonesia.

BI melarang gopay untuk menggunakan uang tersebut (uang yang di simpan di GIRO dan SBN) untuk pembiayaan apapun. Itu memang ada aturannya. Sehingga seakan-akan dia adalah wadiah.

Masalahnya, uang ini waktu disimpan di BI atas nama siapa ?

Atas nama Gopay.

Disini sudah terjadi perpindahan kepemilikan. Dan ini ada bunganya, yang terima bunganya siapa ?

Gopay.

Jadi hubungan antara gopay dengan BI muamalahnya apa ?

Hutang.

Kenapa ? Karena Gopay simpan uang di BI. Dan BI mengolahnya dengan menyimpannya di GIRO dan SBN dan bunganya diberikan kepada gopay.

Jadi menurut aturan yang berlaku, BI menganggap uang konsumen atau dana floating tersebut adalah uang gopay. cuma BI buat peraturan, uang tersebut tidak boleh digunakan sebagai pengamanan supaya gopay siap bayar hutang kapanpun.

Tapi bank menyikapi uang ini sebagai uang kita atau uang gopay ?

Uang Gopay. Buktinya bunga uang tersebut dikasih ke gopay.

Jika muamalah antara gopay dengan BI adalah hutang, maka. Muamalah antara konsumen dengan Gopay otomatis adalah Qardh alias hutang.

Anda tidak bisa bilang “Saya niatnya wadiah” karena sudah ada aturannya.

Sama halnya seperti anda menyimpan uang di bank. Anda niatkan sebagai wadiah. Tidak mungkin, karena bank pasti menggunakan uang anda. Saat bank menggunakan uang anda, saat itulah akadnya berubah menjadi hutang.

Ada yang bilang itu wadiah karena gopay punya peraturan : Ketika akun kita hilang Gopay tidak mau tanggung jawab. Kalau hutang harusnya tanggung jawab.

Itu hanya aturan yang salah dari gopay. apakah wadiah atau qardh harusnya gopay tanggung jawab karena yang hilang akun aja. duitnya masih ada gak ?

masih ada.

Itu aturan yang salah dari gopay, dan tidak merubah status dari qardh, tetap saja qardh.

Hukum Menggunakan Gopay adalah Riba

Nah jika akadnya adalah hutang, maka..

Diskon yang kita dapatkan dari gopay adalah apa ?

Riba,

Setiap hutang piutang yang mendatangkan keuntungan adalah riba.

Maka ikhwan, kita tidak perlu menggunakan gopay kecuali dalam keadaan darurat. Karena uang yang kita top-up di gopay pada akhirnya akan dipergunakan untuk praktek riba.

Sama halnya seperti kita menabung di bank. Hukum asalnya kalau kita menanbung dibank kita membantu proses riba.

karena uang tersebut akan digunakan oleh bank konvensional untuk praktek riba. Dan Allah berfirman “Jangan kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.

Para ulama mengatakan : Kita boleh menyimpan uang dibank kalau darurat, takut hilang dan sebagainya.

wallohu a’lam

Ovo dan Gopay adalah Uang Elektronik Non Bank

Ovo dan Go-Pay bukan merupakan produk dari bank manapun, sehingga keduanya bisa disebut uang elektronik non bank.

Nah berdasarkan peraturan Bank Indonesia no. 20/6/PBI/2018 “Uang elektronik non bank harus menyimpan dana konsumen minimal 30% pada Giro Kelompok Bank umum (Buku) IV, dan paling banyak 70% pada SBN atau surat berharga BI”

Lihat kembali gambar paling atas

Bank yang masuk dalam daftar Buku IV yaitu :

  1. Bank Rakyat Indonesia ( BRI )
  2. Bank Mandiri
  3. Bank Central Asia ( BCA )
  4. Bank Negara Indonesia ( BNI )
  5. Panin Bank
  6. CIMB Niaga

Kepala Pusat Bagian Transformasi Bank Indonesia tahun 2018 Onny Widjanarko mengungkapkan “30 persen Dana Floating yang disimpan pada GIRO gunanya untuk transaksi konsumen.

Giro dipilih karena bisa menarik uang dalam jumlah banyak, kapan saja. Juga dianggap aman dan transparan.

70 persen dana floating tersebut disimpan pada SBN dan Instrumen BI gunanya sebagai Perlindungan. Keduanya dianggap aman dan liquid”

Ada Unsur RIBA pada Ovo dan Go-Pay

Satu hal yang harus kita sepakati bersama yaitu tentang peraturan BI diatas. Dan fakta yang tidak bisa kita sangkal adalah 100 persen dana floating konsumen tersebut menghasilkan bunga riba.

Walaupun bunga GIRO kecil tapi tetap saja bunga. Bunga dari SBN dan Instrumen BI cukup menggiurkan bagi perusahaan uang elektronik seperti ovo dan go-pay.

Dan kita tahu 70 persen dana floating konsumen disimpan disini.

Solusi Agar Terhindar dari Riba Ovo dan Go-pay

Pertama : Jangan tergiur harga murah dan diskon

Kebanyakan orang menggunakan ovo dan go-pay karena tergiur dengan harga murah, diskon dan berbagai bentuk penawaran lainnya.

Perusahaan uang elektronik seperti ovo dan go-pay mampu memberikan promo-promo menarik seperti diskon, harga murah dan lain-lain karena mereka menghasilkan keuntungan yang sangat menggiurkan dari bunga dana floating. Logikanya sesederhana itu.

Kedua : Bayar pakai uang tunai

Ovo dan Go-Pay bukanlah seuatu yang wajib kita miliki. Kita masih bisa memakai jasa Go-Jek, Grab, dan belanja online tanpa harus menggunakan dompet digital.

Kalau abang ojolnya nawarin, cukup senyumin aja 🙂

Semoga kita diberikan petunjuk oleh Allah untuk memutuskan perkara yang rumit. Dan semoga Allah memudahkan kita menghindari riba yang merusak, amiin. Jika saudara merasa artikel ini bermanfaat mohon beri dukungan dengan berinfaq melalui link berikut –> Berinfaq

Sumber Referensi video youtube apakah ovo dan gopay riba:

  1. Hukum Pakai E-Money (Gopay, Ovo, dll)
  2. Hukum Menggunakan Gopay dan OVO
  3. Gambaran Gopay Secara Global Ustadz Dr. Firanda Andirja

6 tanggapan pada “Apakah Ovo dan Gopay Riba ? Temukan Jawabannya Disini”

  1. Assalamualaikum wr wb.

    terimakasih banyak atas ilmunya, semoga Allah memberi balasan atas manfaat yang sudah disebarkan oleh penulis.

    Saya masih ada beberapa pertanyaan terkait cashback. semoga berkenan untuk menjawab kebingungan saya..

    1. apabila saya belanja di tokopedia/shopee, cash, metode pembayaran transfer bank. saat transaksi saya menggunakan voucher diskon 10% cashback (voucher ini saya dapatkan gratis dari hadiah). saya tidak pernah men top up ovo, tapi diskonnya berbentuk cashback ke ovo. begitu juga dengan shopee, saya tidak pernah topup shopee pay, tapi saya punya saldo shopee pay dari diskon2 transaksi tunai saya. apakah saldo ini termasuk riba?

    2. saya punya telkomsel pascabayar. setiap pembayaran saya mendapat hadiah point. point2 ini jika dikumpulkan bisa digunakan untuk membeli sesuatu (makanan atau tiket nonton, dsb). apakah point ini termasuk riba?

    3. bagaimana jika menggunakan gopay hanya sesuai jumlah yg ingin dibeli. misal saya membeli makanan dengan total 200rb (sudah pajak dan biaya delivery), saya hanya topup gopay 200rb sesaat sebelum transaksi. sahingga tidak ada dana yg “tersimpan” di gopay.
    apakah transaksi ini riba? jika ada cashback nya, apakah cashbak nya ini riba?

    4. saya tidak pernah isi gopay, tapi saya punya hadiah voucher potongan harga (langsung potong, bukan cashback) jika saya membayar menggunakan gopay. apakah ini riba jika digunakan dengan cara bayar seperti nomor 3?

    mohon pencerahannya..
    terimakasih

    Wassalamualaikum wr wb.

    1. Dear Syifa Auila
      Walaikum salam
      Terima kasih banyak sudah mendo’akan
      1. Untuk Ovo jawabannya riba, kalo shopee pay jika metode pengelolaan dananya sama seperti ovo maka riba juga
      2. Ini termasuk hadiah, maka tidak riba
      3. Ya riba, cashbacknya juga riba. Kenapa tidak bayar cash saja mbak ?
      4. Ya riba

      Cara paling aman transaksi online hanya dengan membayar cash. Kalau mau lebih aman lagi bayar pakai Dinar. Transfer bank riba, top-up riba. Cashback ataupun potongan harga jika berasal dari pihak ketiga seperti tokopedia, shopee, ovo, gopay umumnya riba

      Semoga membantu

    1. Dear pak Hendro Ibrahim

      Ya, kalau bayarnya pakai ovo atau gopay. Tidak riba jika bayarnya kas.
      Logikanya begini :
      Ketika kita top-up atau isi saldo ovo/gopay otomatis uang kita sudah berbentuk uang elektronik. Kalau sudah berbentuk uang elektronik (UE) maka, mau tidak mau uang kita tadi minimal 30% akan ditempatkan pada bank peserta buku IV atau Giro. 70% sisanya di investasikan sebagai SBN.

      Jadi mungkin, saldo ovo/gopay milik pak Hendro sudah terlebih dulu mengandung unsur riba bahkan sebelum pesanan gofood/ grabfood tiba di depan rumah. wallohua’lam.

      demikiAn semoga membantu

  2. Itu darimana regulasinya dananya masuk BI yah?

    Apakah betul BI menginvestasikan dana Gopay/Ovo menjadi SBN?

    mohon penjelasannya dengan berdasarkan regulasi yang berlaku

    1. Dear pak Akmal

      Regulasinya dari BI sendiri
      Betul, minimal 30% dana konsumen ovo/gopay di tempatkan di giro, 70% di investasikan pada instrumen keuangan / surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia.

      Untuk lebih jelasnya silahkan pak Akmal buka situs resmi Bank Indonesia tentang regulasi Uang Elektronik atau klik link dibawah ini :
      https://www.bi.go.id/id/peraturan/sistem-pembayaran/Pages/PBI-200618.aspx

      Terima kasih, semoga dapat membantu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *