Penggalangan Dana Sedekah di Lapangan (Pengalaman)

Dalam novel sang pemimpi Andrea Hirata/ Ikal menceritakan lonjakan karirnya dari seorang operator fotocopy menjadi pejabat kantor pos di Kantor Pos pusat Jl. Haji Juanda Kota Bogor. Lalu secara mengejutkan dia berhasil mendapat beasiswa kuliah di Universitas Sorbonne, Prancis. Seorang Ahi juga pernah menjadi operator copy center tapi tidak sampai jadi pejabat kantor pos apalagi jadi mahasiswa Sorbonne University. karir saya tetaplah seorang kuli hanya saja sekarang jabatannya agak keren. Waktu kerja di copy center jabatan saya mentok jadi operator abadi, setelah kerja di DHI jabatan saya menjadi Custom Case Designer, keren kan hehe. Nah yang barusan saudara baca adalah pendahuluan. Mari kita lanjut ke penggalangan dana sedekah.

hari ini Minggu, 28 September 2019 saya melakukan penggalangan dana di daerah Tomang Jakarta Barat. Kotak amal yang terbuat dari kardus bekas saya masukkan kedalam tas lalu pukul 02.30 sore disertai ucapan basmalah saya berangkat. saya naik angkot Jack-Linko Tubagus Angke – Grogol. Turun di terminal grogol saya langsung cari masjid. Terbesit penyesalan dalam hati seharusnya saya menunggu waktu Ashar dulu bukannya buru-buru naik angkot. Tadi di angkot juga mas-mas yang bawa angkot .tidak mau ngetap kartu jaklinko saya, “Biarain aja bang” katanya. Langsung saya jawab “oh”. Ya cuma oh. Baca jjuga : 5 Keutamaan Sedekah dalam Islam yang perlu Kita ketahui

SI PENDIAM

Saya memang jarang sekali bicara panjang apalagi melebar. Sekalinya bicara panjang para pendengar langsung bubar hehe. Sekitar 500-700 meter dari terminal saya menemukan sebuah masjid yang menaranya cukup tinggi, namanya masjid agung apa gitu saya lupa. Ketika saya mau masuk para jama’ah sudah pada keluar. Saya langsung nyelonong aja kedalam, eh ternyata tempat wudu’ nya adalah diluar. Setelah sholat dan alhamdulillah masih sempat membaca surat Al-Waqi’ah. Kata orang jika membiasakan baca surat Al-Waqiah hidup kita tidak akan jadi faqir. Kalau sepengalaman saya, baca surat Al-Waqi’ah bisa melembutkan hati saya yang keras. Malah kadang bisa bikin nangis padahal saya tidak tahu arti ayat yang saya baca.

Penggalangan Dana Amatiran

Keluar masjid hati terasa lebih damai, saya buka tas, ambil peci lalu memakainya. Tiba-tiba saya keheranan sendiri. Kenapa peci ini saya tidak pakai sholat ya ? Saya jawab sendiri “Ok gpp”. Kotak amal belum saya keluarkan, saya lanjut jalan lurus terus belok kiri kearah Roxy jalan lurus lagi belok kiri lagi lalu balik arah menyeberangi Halte Busway Sumber Waras. Terus melewati pintu masuk RS. Sumber Waras, lalu disamping Roxy Square ada jalan kecil. Saya belok kanan jalan lurus beberapa puluh meter lalu berhenti. Kotak amal saya keluarkan juga akhirnya. Cerita sebenarnya baru saja dimulai.

Sebagai seorang yang baru melakukan penggalangan dana alias amatiran, saya masih malu-malu untuk sekedar berdiri dan mengucap salam di depan warung menatap muka si pemilik warung. Saya hanya terus dan jalan terus sambil komat kamit melenturkan rahang mulut yang jarang dipakai untuk bicara (Pendiam-pen). Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum, assalamu’alaikum, itu aja dzikir saya. Kadang saya ucapkan secara lengkap. Setelah berjalan beberapa ratus meter saya coba memberanikan diri, jalan saya pelankan, pelan, pelan, lalu belok kiri dan berdiri kaku di depan warung orang. “Assalamu’alaikum” saya ucapkan seta’jim mungkin dan dibalas dengan lambaian tangan. “Alhamdulillah” ucapku kemudian dalam hati, paling tidak saya sudah berani mencoba.

Ironi Sedekah Diminta tak diberi tak diminta Malah Memberi

Dijakarta, ibu kota nusantara, sulit sekali mengetuk rumah warga apalagi rumah mewah rata-rata pakai pagar. Yang bisa saya harapkan adalah warung dan toko yang memang pintunya selalu terbuka dan penghuninya selalu standby (selalu ada). namun ada satu kontradiksi atau bisa juga disebut ironi yang saya temukan dilapangan. Ironi yang saya maksud adalah pemilik warung yang saya mintai sedekah tidak mau kasih malah kadang saya tidak dianggap (dicuekin). Tapi justru orang yang ada dipingir jalan / nongkrong atau orang yang sedang belanja di warung tersebut yang terketuk hatinya, dengan kesadaran sendiri tanpa saya minta. Orang tersebut yang justru memberi dengan ikhlas. Malah kadang saya dipanggil, “Bang/ mas” katanya setelah saya samperin dia mengeluarkan selembar dua lembar uang dan dengan ikhlas dia masukkan ke kotak amal. Saya tersenyum dan merasa kagum karena yang melakukan hal seperti itu rata-rata anak muda.

ada satu hal lagi yang menarik. Kalau tidak salah waktu itu saya sudah berada di Palmerah. Selepas Isya di masjid Baiturrahman Kota Bambu, saya makan di warteg. Habis makan bayar dulu dong, tapi tenang saya pakai uang pribadi bukan uang infak. Saya terus jalan menuju arah pulang. Ditengah jalan saya kembali mengeluarkan kotak amal dan menyalakan speaker yang memang sudah ada di dalam kotak amal itu sejak awal. Lewat HP saya membuka aplikasi Qur’an Best dan memutar surat Al-Waqi’ah. Kemudian saya jalan lagi, terus dan jalan terus tanpa belok-belok lagi kewarung-warung. Saya terus jalan sambil mengikuti ayat demi ayat.

AKSI PENGGALANGAN DANA KETEMU ANAK MUDA DERMAWAN

mas, mas..! sayup-sayup kudengar suara itu karena dibenamkan oleh suara dari speaker harga 60 ribuan. Jalan kupelankan dan berbalik arah. Baru saya sadari ternyata anak muda (anak muda lagi saudara-saudara) bertubuh tinggi dan berambut ikal terawat itu sudah mengejar puluhan meter. Ketika kotak amal kusodorkan selembar uang pecahan sepuluh ribu sudah ada ditangannya dan segera ia masukkan. 10.000! sebuah rekor baru, alhamdulillah. Lindungilah anak muda berkacamata itu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang, penuhilah keinginannya dan berilah ia jodoh yang baik amiin ya Allah.

Selepas makan di warteg tadi saya memang sudah malas melakukan penggalangan dana lagi. yang kupikirkan bagaimana caranya biar cepat pulang. Padahal tadi saya masih sempat melewati halte busway tapi entah kenapa saya tetap memutuskan untuk jalan kaki. Dan hasilnya cuma ada dua orang yang memberi sumbangan. Anak muda tadi dan seorang tukang parkir, saudara mau tahu ? tukang parkirnya juga masih muda! orang tua apa kabar ? saya sih positif thingking aja, orang tua levelnya sudah bukan receh lagi iya kan. Tidak kusangka ternyata jarak dari Palmerah ke Jelambar sangat jauh kalau jalannya pakai kaki bukan pakai roda. Kaki rasanya pegel. Mengingat apa yang saya lakukan adalah amal dan insyaAllah pahalanya besar amiin jadi saya takut mengeluh. Apalagi setelah dihitung hasil infaq hari ini hampir dua kali lipat lebih banyak dari minggu kemarin.

Akhir kata mari sama-sama kita do’akan saudara-saudara kita yang masih mau membenarkan / bershodaqoh, agar tetap dalam keimanannya, menjadi manusia-manusia yang sholeh dan menjadi ahli syurga amiin ya robbal alamin. Jika saudara juga terketuk hatinya untuk bersedekah silahkan kunjungu halaman berikut –> Berinfaq

2 tanggapan pada “Penggalangan Dana Sedekah di Lapangan (Pengalaman)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *