Menggalang Dana Infaq dan Sedekah (Pengalaman)

Kebakaran, kemarau panjang, dan demo. Tiga topik itulah yang paling hangat dibahas saat ini. Ibarat kopi hitam dan pisang goreng di pagi hari. Tapi saya tidak akan membahas salah satu dari tiga topik tersebut. Bukan karena ketiganya tidak menarik atau tidak penting. Tapi seorang anak muda bernama ahi harus fokus pada visi misi noribaa.com yaitu memerangi riba, membudayakan shodaqoh, dan menerapkan sistem ekonomi Islam untuk kemaslahatan ummat manusia diseluruh dunia. Nah, salah satu aksi konkrit yang saya lakukan untuk mencapai visi misi tersebut adalah dengan melakukan menggalang dana / infaq dan shodaqoh.

Hari Minggu tanggal 21 September 2019 saya berangkat ke CFD untuk menggalang dana. Dari Jelambar saya naik angkot Jaklinko lalu turun di Grogol. Didalam angkot tadi ada seorang gadis cantik lagi baik berhijab pula dan pakai masker. Saya tak berani menyapa hanya sesekali curi pandang sambil berdoa dalam hati “Oh Tuhan jadikanlah gadis ini istri saya amiin” (tolong diaminkan, plssss). Untuk yang belum tahu Jaklinko itu buat apa, Jaklinko itu adalah kartu prabayar multifungsi yang bekerjasama dengan Bank DKI. Menurut petunjuk dibelakang kartu, Jaklinko atau JakCard bisa digunakan di :

Bukan Manfaat Sedekah

  1. Tiket Masuk Monas
  2. Tiket Busway
  3. Bayar Parkir
  4. Belanja di supermarket
  5. Tiket Kebun Binatang Ragunan
  6. Museum yang ada di wilayah Jakarta
  7. Tiket KRL/ MRT ?

Khusus poin tujuh, saya pernah coba gunakan untuk naik kereta dari stasiun Sudirman. Kata petugasnya kartu Jaklinko tidak bisa digunakan sebagai tiket kereta api. Entah petugasnya yang teledor atau memang tidak bisa. Atau mungkin bukan untuk kereta KRL melainkan untuk tiket MRT ya.

Dari Jelambar saya berangkat pukul delapan pagi setelah sholat Dhuha. Agak kesiangan memang, apalagi ini untuk pertama kalinya saya memungut sedekah dan naik angkutan umum menuju Bundaran HI. Car Free Day (CFD) HI adalah tujuan penggalangan dana hari ini. Di Grogol Jakarta Barat, ada dua halte busway. Yang satu mengarah ke selatan, yang satu lagi ke Jakarta Pusat jika busway tersebut bergerak dari Kalideres atau dari barat.

Menggalang Dana Tak Tentu Arah

Nah disitu saya agak bingung. Untuk menuju HI saya harus pergi ke arah mana ? ke selatan atau ke Jakarta Pusat ? Yang ada dalam pikiran saya hanya Harmoni. Jadi yang saya tanyakan kepada orang adalah “Jika mau ke Harmoni saya harus menunggu di halte mana ?” Seharusnya saya menanyakan begini “Kalau mau ke HI, nunggu di halte mana pak/bu ?” Karena yang saya pakai adalah pertanyaan nomor satu maka orang-orang menunjuk halte yang ke Jakarta Pusat.

Di dalam halte Harmoni saya menuju pintu tunggu tujuan Pulau Gadung karena busway tujuan itu melewati halte Monas. Saya akan turun di halte Monas ucap saya dalam hati. Dan memang benar saya turun di halte Monas tapi setelah saya pikir lagi. Jika saya keluar di halte ini dan berjalan ke HI itu akan sangat jauh. Saya coba bertanya kepada petugas “Bu, kalau mau ke HI..?” dia jawab “Tujuan Blok M ya”. Jawaban cuek ibu muda berseragam biru itu malah membuat saya semakin bingung. Alhasil saya balik lagi ke Harmoni. Dari Harmoni saya naik lagi busway tujuan yang sama tapi saya tidak turun di halte monas melainkan halte berikutnya, halte Balaikota. Saya cukup yakin jarak Balaikota ke HI tidak akan terlalu jauh dan ternyata anggapan saya salah besar. Akibatnya saya harus berjalan berkilo-kilo meter. Panas, karena hari sudah tidak pagi lagi. beginilah nasib si pejuang sedekah anak muda.

Perjuangan Menggalang Dana

Akhirnya sampai juga di pintu batas Car Free Day tapi kaki sudah terlanjur pegal, tenggorokan haus. Dan perjuangan justru baru saja dimulai.

Ditengah terik Matahari menjelang siang, mungkin sekitar pukul 10.00 saya keluarkan kotak amal dari dalam tas ransel. Saya berjalan menuju bundaran HI, menentang arus orang ramai yang juga berjalan kaki dan sebagian kecil bersepeda santai. Saya berjalan terus melawan arus namun tak bicara. Tapi saya yakin orang-orang pasti saya sedang menggalang dana. Sampai di Bundaran HI kotak amal itu saya letakkan di pagar air mancur lalu saya foto. Entah untuk apa, mungkin untuk tulisan ini. Kemudian saya berjalan lagi dan tetap melawan arus dan tetap dalam diam tak berani melawan pandang apalagi bersuara lantang. Kalah jauh dari adek-adek mahasiswa yang tak gentar berteriak gegar.

Jalan seakan tak dapat kuhentikan, hingga keramaian berangsur lengang. Panas semakin menyengat dan tenggorokan tak lagi haus tapi dahaga. Sampai di Karet akhirnya saya berhenti, berteduh di Halte Bis sambil memandangi kotak amal yang belum sekalipun disumbangi. Setelah puas melepas lelah saya berjalan lagi, sempat kepikiran untuk terus berjalan sampai ke Senayan. Tapi saya rasa saya tidak akan kuat dan saya pun berbalik arah. Saya mau menyeberangi jalan lewat under pass, alasannya;

  1. Panas
  2. Pengen aja.

Menggalang Dan Malah Dicurigai

Ketika saya hendak menuruni tangga, seorang petugas keamanan datang menghampiri saya “Mau kemana?” Petugas itu berseragam putih, masih sangat muda. Mungkin baru menjalani karirnya sebagai security selama beberapa bulan “Mau menyeberang, bisa” saya tanya balik dengan sikap semeyakinkan mungkin “Bisa aja sih pak” jawabnya ragu. Saya yakin dia pasti curiga dengan kotak amal ditangan saya atau tas ransel hitam dipunggung saya. Ya, wajah saya memang wajah teroris. Tidak kusangka ternyata under pass ini cukup jauh kebawah. Sampai untuk keluarpun butuh perjuangan menaiki anak tangga demi anak tangga. Hari sudah hampir siang namun belum setetespun air menetesi tenggorokan. Gejala stress mulai tampak.

Namun kaki seolah tak terpengaruh oleh kekacauan pikir dan krisis air di pipa kerongkongan. Kaki ini terus berjalan tanpa acuh dengan tuannya yang mulai mabuk fatamorgana. Menjelang Bundaran HI akhirnya saya menemukan pedagang kaki lima dengan deretan botol-botol air mineralnya. Kutebus satu botol Aqua tanggung seharga lima ribu rupiah, dua kali lipat dari harga CFD. Tapi masa ia saya harus bertahan dengan kehausan itu gara-gara masalah harga ? Mungkin ini juga merupakan praktek muamalah. Membeli bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan tapi juga disertai niat menolong yang lemah.

Berdamai Dengan CFD Jakarta

Minum beberapa teguk, tenggorokan rasanya adeeemm banget, pikiranpun pun perlahan mulai jernih kembali. Memang saya tak dapat satu sen pun sedekah disini dan itu adalah kesalaha saya. Saya sudah berdamai dengan CFD ini. Sekarang yang saya pikirkan bagaimana caranya agar aksi menggalang dana ini jangan sampai kembali dengan tangan kosong. Jangan sampai! Tapi pertama-tama saya harus cari masjid dulu, ini sudah pukul 11.30. Hanya beberapa menit saya sudah menemukan sebuah masjid yang berdiri damai ditengah keangkuhan gedung pencakar langit pusat pasar modal. Saya lupa nama masjidnya tapi lingkungannya memang cukup damai. Sampai di tangga masjid saya duduk agak lama demi meredakan rasa sakit di sudut jari kaki kiri yang memar karena terlalu jauh berjalan. Coba bayangkan, Balaikota – HI – Karet – HI lagi dan akhirnya sampai di masjid ini. Menjelang dzuhur saya sempatkan sholat tahyatul masjid. Sebentar kemudian adzan pun berkumandang dari suara merdu seorang pemuda.

Baca Surat An-Nur

Sholat sunnah, sholat dzuhur berjama’ah, dzikir sebentar lalu sholat sunnah lagi. Setelah itu rebahan disudut masjid. Saya tidak ngantuk, tapi badan masyaAllah capek. Saya melihat Al-Qur’an nganggur di pilar masjid, saya ambil lalu saya buka surat An-Nur. Saya menemukan satu ayat yang terjemahannya kurang lebih begini “Jika bukan karena rahmat Tuhanmu, Azab kalian pasti disegerakan”.

Kurang lebih setengah jam kemudian saya melanjutkan perjalanan, tapi belum tahu pasti mau kemana. Tadi haus sekarang lapar. Saya masuk ke stasiun KRL Sudirman, saya ambil dompet dari celana lalu kukeluarkan kartu Jaklinko untuk menembus pintu besi otomatis. Dan ternyata kartu Jaklinko tidak bisa digunakan sebagai tiket KRL. Padahal di belakang kartu ada gambar KRLnya, saya agak kesal. Naik busway lagi juga akhirnya. Perut mulai keroncongan, fisikpun melemah, anehnya semangat belum juga padam. Sekitar pukul dua siang saya sampai di halte Sumber Waras. Saya keluar dan menuruni tangga. Disebelah kanan saya yang hanya dibatasi oleh taman, ada sebuah masjid, nanti saya akan i’tikaf di masjid itu tapi, saya harus makan dulu, laparrrrr.

Masjid ini terdiri dari dua lantai, dan yang dipakai untuk sholat adalah lantai dua. Lantai satu entah dipakai untuk apa. banyak orang tidur didalam masjid karena ruangannya ber AC. Saudara tahu kan AC, Air Conditioner. Saya tidak ikutan tidur karena saya memang tidak ngantuk. Setelah sholat tahyatul masjid saya menuju ke tumpukan mushaf. Disana saya menemukan sebuah buku tentang muamalah. Judulnya kalau tidak salah “Tujuh Kaidah dalam Muamalah”. Setelah sholat Ashar saya coba mengumpulkan semangat untuk melakukan penggalangan dana. Dengan hati yang adem, saya berjalan pelan dan berpikir sama pelannya.

Infaq Anak Muda Berhati Malaikat

Ini adalah hari yang bersejarah dalam hidup saya. Hari dimana untuk pertama kalinya saya melakukan aksi menggalang dana, sendirian. Seumur hidup saya, ini baru pertama kali, semoga menjadi awal yang baik. Disebuah trotoar yang sepi , di depan kantor pos yang tutup karena hari Minggu saya memberanikan diri mengeluarkan kotak amal dari dalam tas lagi. Berjalan melewati beberapa rumah dan warung saya belum punya keberanian untuk mengucap salam dan menyodorkan kotak amal. Dan secara mengejutkan, seorang pemuda tiba-tiba mengeluarkan satu lembar uang pecahan lima ribu rupiah dan sambil lewat (berpapasan dengan saya) ia memasukkan uang itu kedalam kotak amal yang saya bawa. Jujur saya kaget dan bahagia. Saya masih sempat membalikkan badan untuk sekedar melihat kembali sosok pemuda tadi, malaikatkah ia ?

Momentum Menggalang Dana

Inilah momentumnya, karena setelah itu barulah saya berani menggalang dana, mandatangi warung demi warung. Walaupun tidak semua saya samperin, tapi ini sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah banyak yang memberi tapi tidak jarang juga yang hanya sekedar melambaikan tangan. Saya selalu mendoakan mereka yang dengan ikhlas berinfak dan bershodaqoh di jalan Allah. Dan kepada mereka yang mengucap maaf dan atau melambaikan tangan saya menunduk ta’jim disertai senyuman nan tulus. singkat cerita aksi penggalangan dana hari ini saya nyatakan berhasil. Jika saudara juga terketuk hatinya untuk bersedekah silahkan kunjungi halaman berikut –> Berinfaq

2 tanggapan pada “Menggalang Dana Infaq dan Sedekah (Pengalaman)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *